Templates by BIGtheme NET
Home / Ajatappareng / Kejaksaan Mulai Pulbaket Kasus Beras Rusak di Bulog Sidrap
?
?

Kejaksaan Mulai Pulbaket Kasus Beras Rusak di Bulog Sidrap

SIDRAP, Penarakyat.com — Kejaksaan Negeri (Kejari) Sidrap mulai melakukan penelusuran penyimpangan di instansi Perum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Sidrap terkait adanya pengadaan beras yang rusak.

Informasi yang dihimpun Penarakyat.com, menyebutkan sebagai langkah awal, tim penyidik Kejaksaan sudah melakukan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) untuk mengendus sedikitnya 3.000 ton beras hasil Pengadaan Tahun Anggaran 2016 yang rusak dan tersimpan ditiga lokasi gudang milik Perum Bulog Sidrap ini.

Pulbaket tim Kejaksaan ini sudah dilakukan sejak tiga hari terakhir diantaranya, memanggil sejumlah kepala Gudang Semi Permanen (GSP) masing-masing Kepala GSP Ponrangae dan Kepala GSP Otting kecamatan Pitu Riawa dan Kepala GSP Lanrang kecamatan Panca Rijang.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sidrap Jasmin Simanullang yang dikonfirmasi membenarkan pihaknya tengah mengendus kasus beras apek yang terjadi di perusaahn plat merah tersebut.

“Data awal ada sekitar 3.00 ton atau 3 juta kilogram beras di Bulog Sidrap rusak dan tidak tersalurkan. Ini yang sementara kita sedang pulbaket kasus itu,” ungkap Jasmin Simanullang, dihubungi, dikantornya, Rabu (30/08).

Menurut Jasmin, pulbaket ini berdasarkan informasi dan laporan masyarakat terkait terjadinya penyimpangan beras rusak di sejumlah Gudang Bulog yang ada di Sidrap itu.

“Nah, berdasarkan informasi masyarakat ini kita telusuri kebenarannya. Saya sendiri sudah terbitkan sprint penyelidikan dan pengumpulan bahan keterangan ke Intelijen untuk ditindak lanjuti,”papar Jasmin yang juga mantan Kajari Kabupaten Dobo Kepulauan Aru.

Dalam hitungan penyidik, menyimpulkan adanya kerugian negara akibat penyimpangan beras rusak ini dimana diestimasi harag beras pemerintah Rp7.300 dikali 3 juta kilogram itu mencapai Rp21,9 miliar potensi kerugian negara.

“Ini yang akan kita telusuri kebenarannya. Hitungang awal itu potensi kerugian negara ada sekitar Rp21,9 miliarjika diestimasi penjaualan beras Bulog seharga Rp7,300 perkilogramnya,”tandas Jasmin.

Dihubungi terpisah Kepala Seksi Intelijen, Andi Arifuddin Ahmad, menambahkan pihaknya sudah memanggil beberapa kepala gudang dan dimintai keterangannya terkait adanya laporan warga tentang kerusakan beras yang disimpan lama digudang Bulog Sidrap.

“Pulbaket kita sudah jalan sejak Senin kemarin. Sudah ada beberapa orang-orang Bulog Sidrap kita panggil dan mendengar keterangannya. nantilah kita lihat perkembangan hasil penyelidikan ini,”ungkap Arifuddin Ahmad.

Terpisah, Kepala Perum Bulog Sidrap, Muh Taufik yang dikonfirmasi tak menampik adanya kerusakan beras di sejumlah Gudang yang ada diwilayah kerjanya. Hanya saja, Taufik membantah jika data kerusakan tidak sampai 3.000 ton.

“Memang iya ada beras pengadaan 2016 rusak dan sudah bau apek. Hanya saja, bukan 3.000 ton jumlahnya tapi hanya 1.700 ton yang rusak,”tepis Muh Taufik saat dihubungi via selulernya, kemarin.

Taufik menjelaskan, sebelum kasus ini terendus di kejaksaan, pihaknya jauh-jauh hari sudah melaporkan ke pimpinannya baik ditingkat Bulog Provinsi maupun Bulog Pusat terkait terjadinya kerusakan beras tersebut.

“Kita tidak sembunyikan ini dan sudah SOP, baik pelaporan jumlah kerusakan termasuk petunjuk tehnisnya kami tidak salurkan atau ekspor keluar daerah,”paparnya.

Bahkan, kata dia, sistem pengawasan dan pemeriksaan pasca dilaporkannya beras rusak tersebut sudah ditangani pihak Sucofindo untuk dilakukan pengecekan dan pemeriksaan. “Sudah kami laporkan kepusat dan provinsi.

Pihak pengawas dan Sucopindo juga sudah turun mengecek langsung beras rusak itu. Menurutnya, kerusakan beras itu terjadi disebabkan tersimpan lama digudang dan tidak tersalurkan sehingga kerusakan seperti berubah warna dan bau apek.

“Memang kerusakan terjadi karena sudah lama tersimpan. Mengapa? karena kami tidak berani menyalurkan kalau tidak ada perintah dari Bulog pusat, makanya beras tinggal digudang dan terjadi kerusakan,”lontarnya.

Pengadaan beras tersebut terjadi tahun 2016 lalu dengan total target pengadaan 70.000 ton. Bahkan, pihaknya sudah melakukan tindakan penyelamatan seperti dilakukan di Mix dan di grosor atau di sosor agar kerusakan tidak terlalu parah karena tersimpan lama.

“Standarnya pengadaan beras-beras yang sudah digudangkan itu seharusnya sudah didistribusikan atau dikapalkan keluar daerah paling lama 3 bulan tersimpan. Tidak boleh lama-lama seperti ini,karena resikonya akan rusak dan bau apek jika sudah lebih setahun tersimpan,”imbuh MUh Taufik.

Taufik juga mengklaim, kerusakan beras di gudang Bulog tidak hanya terjadi di Sidrap saja. melainkan hampir kasus ini semua terjadi digudang-gudang Bulog di Sulsel. “Ini memang sudah masalah besar bagi kami. Beras menumpuk dan tidak tersalurkan dan kita tahu Kabupaten Sidrap adalah lumpung pangan terbesar di Sulsel jadi imbasnya, beras-beras menumpukdan tidak terkapalkan ke daerah Kalimantan, Papua dan Jawa karena tidakada perintah dari Bulog pusat,”tegasnya.

Diapun berharap kasus yang melilitnya bisa dimaklumi karena pihaknya masih terus koordinasi dan menunggu petunjuk tehnis dari Bulog pusat terkait tindakan mpemanfaatan beras rusak tersebut.

“Kita masih menunggu petunjuk ini, apakah beras-beras yang rusak ini dijadikan pakan ternak atau dibuatkan tepung untuk bahan kebutuhan lainnya,”tandasnya. (Ady)

About penarakyatcr1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful