Templates by BIGtheme NET
Home / Ajatappareng / Pembelian Harga Gabah di Sidrap Masih Diatas HET Pemerintah
IMG-20180803-WA0015

Pembelian Harga Gabah di Sidrap Masih Diatas HET Pemerintah

SIDRAP, Penarakyat.com — Pembelian harga gabah di Kabupaten Sidrap masih relatif normal. Pihak pedagang sendiri mengakui pembelian gabah ditingkat petani masih diatas rata-rata Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Meski demikian, harga-harga Gabah Kering Panen (GKP) dinilai ada penurunan secara menyeluruh di Indonesia, termasuk di Sidrap.

Ketua Persatuan Perusahaan Penggilingan Padi (Perpadi) Sidrap, Asnawi membenarkan pembelian gabah masih relatif normal ditingkat petani khususnya di kabupaten Sidrap.

Dikatakannya, bahwa harga GKP saat ini ditingkat petani Rp4.600 perKg dan di pengepul Rp4.700 perKg. “Harga ini terjadi diseluruh Indonesia karena mengikuti mekanisme pasar, jadi harga gabah tidak anjlok,” katanya, saat dihubungi, Senin, (18/03/2019).

Bukan berarti, harganya anjlok yang saat ini beredar di masyarakat, hanya mengalami sedikit penurunan dari pembelian yang sebelumnya Rp5.300 perKg di tingkat petani.

Menurutnya, harga yang dikategorikan anjlok itu nanti dibawah harga standar oleh pemerintah. “Tapi inikan sekarang, pembelian gabah masih diatas harga pemerintah yakni Rp4.070. Seandainya dibawah harga itu, baru dibilang anjlok. Kan sekarang masih diatas harga pemerintah,” ucapnya.

Dijelaskannya, harga gabah turun dikarenakan adanya mekanisme pasar yaitu mengikuti harga beras dipasaran hanya Rp8.000 perKg, sedangkan sebelumnya Rp9.200 perKgnya.

Menanggapi terjadinya penurunan harga gabah juga diakui oleh Kasubdivre Bulog Sidrap, Siti Mardati Saing.

Dia mengatakan, Bulog saat ini selalu mengupayakan stabilitas harga beras selalu terjaga dengan melakukan pembelian Beras Premium Rp8.030 perKg. Itu berdasarkan Inpres Nomor 5 tahun 2015 dan ditambah harga pembelian Fleksibilitas sampai10 persen.

“Kami siap melakukan pembelian beras sebanyak-banyaknya. Itu tentunya untuk menjaga stabilitas harga gabah ditingkat petani yang saat ini dianggap turun,” katanya.

Kendati demikian, kata dia, kualitas beras masih tetap utama dan harus sesuai standar dengan alasan kualitas itu akan bisa ditampung dengan waktu cukup lama.

Saat ini, lanjutnya sudah ada sekitar 10 ribu ton lebih yang ditampung. Sementara untuk realisasi pengadaan beras 2019 ini sebanyak 1.673 ton.

Dikatakannya bahwa saat ini pihaknya juga melakukan sistem beli jual. Untuk sistem jual beli, Sidrap mendapatkan kuota 200 ton dari 500 ton di Sulawesi Selatan (Sulsel).

“Sistem jual beli ini, kita tidak tampung lagi hanya sebagai perantara dari pihak pembeli. Setelah kita beli beras langsung dijual kembali ke pembeli,” katanya.

Hal itu juga kata dia, salah satu upaya Bulog untuk membantu menstabilkan harga gabah ditingkat petani.

“Kita sudah berdasar harga pemerintah yaitu
Komoditi Gabah PSO sesuai Inpres No.5/2015 yakni Rp4.650 dan Fleksibilitas harga Rp465 dengah total harga pembelian sebanyak Rp5.115. Begitupun beras PSO Inpres Rp7.300 dengan tambahan pembelian Fleksibilitas Rp730 dengan total dibeli itu Rp8.030,”tandasnya.

Terpisah, Kabid Perdagangan Sidrap, Sudarmin mengaku, bukan soal harga gabah yang juga menjadi persoalan di tingkat petani.

Namun juga dari oknum tengkulak atau pengepul yang kerap melakukan pemotongan timbangan gabah yang terlalu banyak dengan berbagai alasan.

“Itu juga faktor utamanya petani sehingga mengelukan hal tersebut yang terkadang juga melakukan penimbangan gabah pada malam hari,” ucapnya.

Dikatakannya, bahwa saat ini tim satgas pangan terus berupaya dan selalu melakukan pendampingan serta pengawasan terhadap hal-hal seperti itu.

“Setiap saat tim satgas turun ke lokasi. Tentunya itu untuk menghindari adanya tengkulak yang selalu mempermainkan timbangan. Jika ada didapat langsung ditegur, kalau masih mengulangi akan diberikan sanksi sesuai aturan yang ada,” tandasnya.

Sementara, hal senada juga dikemukakan H. Rasman Arsyad. Pengusaha Beras terbesar di Sulsel ini juga turut menyikapi polemik adanya keluhan petani yang mengakui harga gabah anjlok.

Menurutnya pihaknya membeli gabah petani itu disesuaikan kondisi pasaran, dimana pembelian gabah ditingkat petani itu tergantung kondisi daerah maupun kualitas gabah.

“Kita selaku pengusaha itu membeli gabah petani selalu diatas harga pemerintah. Jadi terkait anomali harga itu sudah sesuai prosedur serta standar harga nasional,”tegasnya.

Meburutnya lagi, pembelian gabah itu menyesuaikan panen setiap daerah. Seperti di Gowa itu pengepul pembeli gabah itu dibayar petani dengan harga Rp4,550 Perkg.

“Di Sidrap justru gabah lebih mahal dibelikan ditingkat petani ketimbang didaerah lain. Harga gabah petani itu rata-rata dihargai oleh pedagang antara Rp4600 s/d Rp4700 ditingkat petani. Jadi dimana lagi disebut harga anjlok di Sidrap, apalagi tidak semua petani di Sidrap mengeluhkan pembelian gabah itu,”tandasnya. (Ady)

About penarakyatcr1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful