Gedung Bulog di Jakatta, foto:istimewa

JAKARTA, Penarakyat.com – PT Perum Bulog mencatatkan kerugian sebesar Rp550 miliar dalam laporan keuangan tahun buku 2025. Informasi tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Bulog dan Komisi VI DPR RI pada pekan lalu.

Direktur Keuangan Bulog Hendra Susanto mengatakan angka kerugian tersebut masih bersifat sementara dan tidak ditutup-tutupi oleh manajemen.

“Kemarin waktu RDP kita ditanya, dan memang tidak bisa ditutup-tutupi bahwa Bulog mengalami kerugian Rp550 miliar. Itu baru angka sementara,” kata Hendra saat ditemui di Bulog Business District, Jakarta Selatan, Minggu (26/1/2026).

Menurut Hendra, kerugian tersebut terjadi karena Bulog masih menjalankan penugasan pemerintah dengan skema margin fee Rp50 per kilogram, yang dinilai tidak lagi sebanding dengan biaya operasional.

Namun, kondisi keuangan Bulog diperkirakan akan membaik setelah pemerintah menetapkan margin fee sebesar 7 persen dari setiap penugasan. Dengan kebijakan baru tersebut, Bulog memperkirakan dapat mencetak laba sekitar Rp2,4 hingga Rp2,5 triliun per tahun.

“Kalau margin 7 persen itu sudah berjalan, Bulog akan menjadi perusahaan yang sangat sehat,” ujar Hendra.

Ia menjelaskan, dalam setiap penugasan pemerintah seharusnya terdapat dua komponen utama, yakni cost plus dan margin keuntungan. Hal itu juga tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah/Beras Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah.

Berdasarkan kajian Bulog bersama tim ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM), margin 7 persen dinilai sebagai angka yang wajar dan setara dengan badan usaha penerima subsidi lainnya.

“Ini yang kemudian kami usulkan,” jelasnya.

Hendra pun meminta dukungan publik agar Bulog dapat menjadi BUMN yang sehat sekaligus menjalankan peran strategis dalam mendukung program swasembada pangan Presiden Prabowo Subianto, termasuk penyerapan dan penyaluran beras petani dalam skala besar.

“Semoga aturan ini segera ditetapkan sehingga Bulog bisa memberi manfaat yang lebih besar bagi negara,” ucapnya.

Kerugian Bulog tersebut memicu beragam reaksi di media sosial. Sejumlah warganet melontarkan kritik bernada satire dengan membandingkan kinerja Bulog dengan warung Madura yang dinilai mampu bertahan dan berkembang secara mandiri.

“Ternyata Bulog dalam hal pengelolaan manajemen masih kalah sama warung Madura, sebaiknya Bulog belajar dari warung Madura,” tulis akun @tanto. Rabu (28/1/2026).

Warganet lain menambahkan, ekspansi warung Madura yang kini tersebar hampir di seluruh Indonesia bisa menjadi contoh pengelolaan usaha yang efektif.

“Dulu warung Madura sedikit, sekarang hampir di seluruh Indonesia ada. Harusnya petinggi Bulog orang Madura saja,” tulis warganet lainnya. (Joe).