CHONGZUO, TIONGKOK – Upaya konservasi primata paling terancam punah di dunia, Langur Kepala Putih, mencatatkan keberhasilan gemilang. Berkat integrasi teknologi Artificial Intelligence (AI) dan restorasi ekologi, populasi satwa yang hanya ditemukan di pegunungan karst Guangxi ini melonjak drastis dari hanya 300 ekor pada tahun 1980-an menjadi lebih dari 1.400 ekor saat ini.

​Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi antara Pemerintah Tiongkok, Cagar Alam Nasional Langur Kepala Putih Guangxi Chongzuo, dan Huawei. Melalui platform pemantauan cerdas berbasis cloud dan AI, tantangan medan karst yang terjal kini bukan lagi penghalang bagi para peneliti untuk memantau perilaku satwa yang dijuluki “peri gunung batu” tersebut.

​Monitor 24 Jam dengan Teknologi AI

​Direktur Pusat Manajemen Cagar Alam, Nong Dengpan, mengungkapkan bahwa penggunaan teknologi digital memungkinkan pengamatan yang jauh lebih presisi dibandingkan metode patroli tradisional. Sistem ini didukung oleh lebih dari 20 stasiun pemantauan yang mampu melakukan pelabelan otomatis dan analisis data secara real-time.

​Hingga saat ini, sistem berbasis AI tersebut telah mencatat lebih dari 37.200 deteksi aktivitas langur. Data masif ini menjadi kunci bagi pengelola cagar alam dalam memetakan distribusi dan pola hidup langur, sehingga intervensi konservasi yang dilakukan menjadi jauh lebih terukur dan efektif.

​Restorasi Habitat dan Koridor Ekologi

​Selain dukungan teknologi, pemulihan populasi ini didorong oleh langkah hukum melalui Peraturan Perlindungan Habitat Lutung Kepala Putih Chongzuo. Tercatat, sebanyak 77,6 hektar habitat telah direstorasi, lengkap dengan pembangunan 2 sumber air minum utama, 18 titik air minum tambahan, serta 2 koridor ekologi untuk mengatasi fragmentasi habitat.

​Wakil Manajer Umum Huawei Guangxi, Tian Yongsheng, menegaskan komitmen perusahaan dalam menjaga keanekaragaman hayati melalui inovasi digital. Ia menyebutkan bahwa keberhasilan di Chongzuo membuktikan nilai luar biasa AI dalam memproses data geografis yang kompleks untuk konservasi alam.

​“Kami bekerja sama dengan mitra global untuk mendukung konservasi ekosistem menggunakan teknologi digital seperti 5G, cloud, dan AI. Hingga akhir 2025, proyek inklusi digital kami telah diimplementasikan di 65 kawasan lindung di seluruh dunia,” ujar Tian Yongsheng melaui keterangan resminya kepada Penarakyat.com via Media OutReach.

​Keberhasilan ini diharapkan menjadi model referensi bagi perlindungan spesies primata langka lainnya di kawasan Asia Tenggara, sekaligus membuktikan bahwa teknologi dan alam dapat berdampingan demi keberlangsungan ekosistem yang rapuh.

Editor: Jumardi

Sumber: Huawei / Media OutReach