Indonesia Menuju Satu Juta Barel Per Hari

Indonesia Menuju Satu Juta Barel Per Hari

Screenshot_2020-10-08-19-34-57-502_com.google.android.apps.docs

WAJO, penarakyat.com – Kendati produksi minyak mentah di Indonesia berada pada tataran 705 ribu barel per hari (705 k bpd), namun kebutuhan minyak bumi terutama BBM di Indonesia yang cukup tinggi hingga mencapai 1,3 juta barel perhari, memaksa pemerintah untuk melakukan import terhadap komoditi energy tersebut.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, import minyak mentah pada tahun 2019 sebanyak 360 ribu barel per hari, dan khsusus untuk import bahan bakar minyak (BBM) sebesar 370 ribu barel perhari.  Untuk menekan import minyak bumi maka pemerintah melalui Kementerian Energy dan Sumber Daya Mineral memprogramkan peningkatakan produksi dengan target 1 juta barel per hari di tahun 2030 mendatang.

Selain program 1 juta barel, pemerintah juga akan mempertahankan tingkat produksi lapangan yang ada saat ini, kemudian mentranformasi sumber menjadi produksi, melaksanakan pekerjaan Enhanced Oil Recovery  (EOR) dan memaksimalkan eksploitasi lebih massif lagi.

Sementara untuk program jangka pendek, pemerintah meminta pengoptimalan lapangan migas yang masih belum maksimal dieksploitasi. Mendorong wilayah kerja pertamina yang tidak produktif untuk bisa dikerjasamakan dengan pihak lain, dan mengiplementasikan inovasi tekhnologi untuk meningkatkan produksi migas.

Menteri Energy dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif saat membuka acara pelatihan untuk media, bisnis proses minyak dan gas bumi batch dua yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas)  kerjasama JSK Petroleum Academy melalui via Zoom Jumat/Sabtu (02/03 Oktober 2020), menjelaskan bahwa kebijakan energy nasional saat ini sebagai komoditas mulai beralih menjadi modal pembangunan, pemanfaatan energy untuk eksport secara bertahap dikurangi, dan sebaliknya pemanfaatan untuk domestik terus ditingkatkan terutama saat ini untuk gas dan batu bara.

Menurutnya, sektor migas telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perekonomian nasional, selain sebagai penghasil devisa dan penerimaan negara, juga sebagai penyedia energy untuk kebutuhan dalam negeri, bahan baku industry, wahana alih technology, penciptaan lapangan kerja, mendorong pengembangan industry jasa penujang, dan pendukung pengembangan wilayah.

“Namun, disatu sisi produksi migas khususnya minyak bumi relative mengalami tren penurunan tiap tahun, terjadi kurang lebih 20 tahun,” katanya.

Hal tersebut, kata Dia, disebabkan karena lapangan minyak di Indonesia banyak yang sudah berusia lanjut dan belum ditemukannya cadangan minyak besar kecuali baru blok cepu yang ada di Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah. Saat ini, cadangan gas Indonesia tercatat masih ada 3,77 milyar barel atau 0,2 persen dari cadangan dunia.

Umur cadangan terbukti minyak tersebut hanya sekitar 9 tahun dengan asumsi tidak ada lagi temuan cadangan baru. Sedangkan cadangan gas bumi pada posisi yang lebih baik, yakni masih ada sekitar lebih dari 77 triliun kaki kubik atau 1 persen dari cadangan dunia. Umur cadangan terbukti gas tersebut bisa sampai 22 tahun dengan asumsi tidak ada temuan cadangan baru.

“Oleh karena itu perlu ada strategi komprehensif untuk meningkatkan produksi migas nasional baik jangka pendek maupun jangka panjang. Salah satu strategi jangka panjang adalah program 1 juta barel per hari di tahun 2030,” jelasnya.

Selain itu, ada beberapa isu penting dalam peningkatan produksi sektor migas. Untuk sektor hulu migas, ada 42 proyek yang dimonitor secara intenvsif penyelesaiannya termasuk empat diantaranya dikategorikan sebagai proyek strategis nasional.

Total investasi untuk keseluruhan 42 proyek tersebut kurang lebih USD 43 milyar. Diharapkan, dengan proyek tersebut nantinya bisa memberikan tambahan prosuksi minyak bumi sebesar 92.052 barel per day (bpd) dan gas bumi sebesar 6.052 milyar metrik standar kubik perday.

Sedangkan untuk kegiatan usaha hilir migas, pemerintah melalui penugasan ke pertamina sedang membangun dua kilang baru dan akan mengembangkan empat kilang lama untuk ditingkatkan kapasitasnya.

“Diharapkan dengan kapasitas pengolahan kilang yang saat ini sekitar 1 juta barel perhari dengan produksi bbm setara dengan Euro 2, sehingga nantinya pembangunan dan pengembangan kilang selesai, kapasitas pengolahan akan meningkat menjadi 2 juta barel perhari dengan produksi bbm setara dengan Euro 5,” tegasnya.

Sebagian proyek pengembangan kilang juga akan diintegrasikan dengan industry petrokimia sehingga keekonomian proyek akan meningkat dan menarik minat investor. Selain melalui pembangunan kilang upaya untuk mengurangi import BBM juga dilakukan dengan memanfaatkan sumber biodiesel. “Sejak awal tahun 2020 campuran biodiesel terhadap solar telah mencapai 30 persen atau kita kenal dengan produk B30. Potensi penghematan devisa dengan pemanfaatan B30 dapat mencapai kurang lebih USD 1 milyar lebih,” jelasnya.

Screenshot_2020-10-08-19-46-19-729_com.google.android.apps.docs

Sementara itu, Direktur Logistik dan Infrastruktur PT Pertamina (PERSERO), Dr. Ir. Mulyono, M.T, MM mengatakan, dalam perencanaan produksi, dari anasilisi kebutuhan minyak harus dan itu didistribusikan dari kilang, semua kebutuhan harus penuhi oleh kilang begitu kurang mau tidak mau semua harus di impor.

Untuk kesejahteraan masyarakat, Pertamina mengaku berkomitmen menyediakan BBM satu harga bagi masyarakat yang tinggal di daerah 3T (terluar, terdepan, dan tertinggal), sehingga perekonomian bisa menggeliat daerah tersebut. Saat sudah ada 169 lokasi yang sudah jalan ditahun 2017, dan ditarget menjadi 500 lokasi di Indonesia. “Pertamina adalah tangan pemerintah dalam hal kesejahteraan masyarakat di bidang energy,” tandasnya. (***Jumardi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *