Penarakyat.com –– Melangkah menuju Indonesia Emas tentunya tidak mudah, terlebih masyarakat sudah sering dihadapkan pada sebuah pertanyaan klasik namun selalu relevan: dengan nilai apa kita akan melangkah menuju Indonesia Emas Tahun 2045 ? Sisi yang lain juga sudah tampak jelas, bahwa kita semua kini berada pada perubahan zaman yang bergerak cepat, teknologi melesat, dan tantangan sosial kian kompleks.
Di tengah arus itulah kita sering merasakan, bahwa terdapat sejumlah nilai moral fundamental yang sering kali menjadi nilai yang terpinggirkan, misalkan kejujuran, konsistensi—dianggap kalah cepat dari siasat, dan kalah kuat dari kepentingan.
Olehnya sangat beralasan apabila pada situasi seperti itu dihidupkan kembali suatu nilai moral fundamental yang berakar dari nilai-nilai kearifan lokal yang dapat menjadi pedoman kehidupan.
Misalkan yang selama ini sudah banyak diketahui secara luas di dalam kehidupan Masyarakat Bugis-Makassar, terdapat suatu nilai moral fundamental yang dikenal sebagai Lempu’, Reso dan Siri’. Ketiga petuah ini sangat bisa diimplementasikan sebagai Kompas menuju Indonesia Emas 2045.
Merujuk pada satu nilai dimaksud yang disebut Lempu’, diketahui hingga kini tetap selalu menjadi pedoman kehidupan dalam tradisi kearifan lokal Bugis.
Nilai fundamental dimaksud hingga di era sekarang ini, tetap relevan dan akan sangat berguna sebagai manifestasi nilai—kejujuran dan kelurusan hati—yang dapat diletakkan sebagai fondasi utama hidup bermartabat.
Menjadikan lempu’ sebagai kompas berarti menempatkan nurani sebagai penentu arah, bukan sekadar kalkulasi untung-rugi.
Dalam tradisi Bugis di masa kerajaan lampau, lempu’ bukan sekadar sikap pribadi, melainkan nilai publik. Seorang pemimpin dinilai bukan dari kecerdikannya semata, tetapi dari kelurusan niat dan kebersihan tindakannya.
Terdapat petuah Bugis yang mengatakan, “Dua uwangenna lempu’: masseddi ri Dewata, masseddi ri taué”— artinya dua ciri kejujuran: jujur kepada Tuhan dan jujur kepada sesama manusia.
Petuah ini menegaskan bahwa kejujuran tidak boleh parsial. Tidak cukup tampak saleh di hadapan Tuhan, tetapi culas kepada manusia; atau sebaliknya, baik di hadapan manusia namun mengkhianati nilai ilahi.
Pada kehidupan masa-masa kini sangat diperlukan nilai integritas semacam ini: utuh, konsisten, dan tidak bermuka dua. Dan nilai Integritas dimaksud ditemukan didalam moral fundamental lempu’
Kejujuran atau Lempu’ ini juga erat kaitannya dengan sikap keteguhan. Orang Bugis mengenal ungkapan, “Lempu’ na getteng, tannia gau’ mapakewangi”—kejujuran dan keteguhan bukanlah perbuatan yang mempermalukan.
Justru sebaliknya, kebohonganlah yang pada akhirnya menjatuhkan martabat. Dalam kehidupan modern, banyak orang tergoda untuk mengambil jalan pintas: memanipulasi data, menyederhanakan kebenaran, atau menormalisasi kebiasaan kecil yang menyimpang.
Namun, sejarah panjang Bugis mengajarkan bahwa kemuliaan tidak lahir dari kelicikan, melainkan dari keteguhan berdiri tegak dalam kejujuran meski sendirian.
Menjalani kehidupan berbangsa dengan lempu’ juga berarti bersungguh-sungguh dalam ikhtiar.
Kejujuran tanpa kesungguhan akan menjelma menjadi niat baik yang mandek. Di sinilah nilai reso—usaha keras—menjadi pasangan sejati lempu’. Petuah Bugis yang terkenal berbunyi, “Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase Dewata”—hanya dengan usaha yang tak kenal lelah, rahmat Tuhan akan turun.
Kejujuran memberi arah, sementara kesungguhan memberi tenaga. Tanpa keduanya, perjalanan mudah tersesat atau terhenti di tengah jalan.
Lebih jauh, lempu’ juga tidak bisa dilepaskan dari siri’, harga diri. Dalam pandangan Bugis, menjaga kejujuran sama artinya dengan menjaga martabat. Ada ungkapan tegas, “Mate siri’, mate tau”—hilang harga diri, hilang pula kemanusiaan.
Didalam kehidupan seperti sekarang ini, seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan makna siri’ dalam kehidupan publik, misalkan malu berbuat curang, malu mengkhianati amanah, dan malu menikmati hasil dari cara yang tidak benar. Budaya malu ini tampak perlahan memudar, tergeser oleh budaya permisif yang memaklumi penyimpangan selama dianggap lumrah.
Kejujuran juga menuntut konsistensi antara kata dan perbuatan. Raja-raja Bugis masa lampau sangat menekankan hal ini. Dalam lontara’, terdapat nasihat bahwa pemimpin yang baik adalah ia yang ucapannya dapat dipegang, dan tindakannya dapat diteladani. “Ada tongeng, gau’ tongeng”—perkataan yang benar, perbuatan yang benar.
Pesan ini terasa sangat kontekstual di era sekarang, ketika janji mudah diucapkan, tetapi tanggung jawab kerap dihindari. Menjadikan lempu’ sebagai kompas berarti berani menepati janji, meski tidak populer dan tidak menguntungkan secara sesaat.
Menjalani kehidupan dengan kejujuran dan kesungguhan memang bukan pilihan yang mudah.
Ia menuntut kesabaran, keteguhan (getteng), dan kesiapan menanggung risiko. Namun sejarah Bugis membuktikan bahwa nilai-nilai inilah yang menjaga keberlanjutan sebuah masyarakat.
Kerajaan-kerajaan Bugis tidak hanya berdiri karena kekuatan senjata, tetapi karena kokohnya etika dan kepercayaan sosial. Ketika kejujuran dijunjung tinggi, kepercayaan tumbuh; dan ketika kepercayaan tumbuh, kehidupan bersama menjadi mungkin.
Akhirnya, ruang kehidupan pada tahun-tahun belakangan ini semestinya digunakan sebagai ruang ikhtiar menuju Indonesia Emas Tahun 2045.
Kita bisa memilih melangkah cepat tanpa arah, atau melangkah mantap dengan kompas nilai Lempu’, Reso dan Siri yang menawarkan arah itu—sunyi, sederhana, tetapi menuntun. Dan Menjalani kehidupan dengan lempu’, Reso dan Siri sudah semestinya digunakan sebagai orientasi utama, bukan sebagai opsi situasional. Lempu’, Reso dan Siri’ seyogyanya harus hadir dalam cara berpikir, mengambil keputusan, dan bertindak.
Dan Ini diharapkan berlaku bagi individu, pemimpin adat, aparat hukum, hingga generasi muda.
Semoga langkah kita menuju Indonesia Emas tahun 2045 tetap lurus, bermartabat, dan berkeadilan. Demikian, Salam Pancasila, Merdeka !!!
Oleh : Dr.Drs. Andi Djalante,MM.,M.Si
(Penulis adalah Putera Sulewatang Amali; Serta Pemerhati Sosiologi Hukum, Pemerintahan, dan Sosial-Budaya)















Tinggalkan Balasan