JAKARTA, PenaRakyat.com – Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan hubungan industrial tidak cukup dibangun hanya dari pemenuhan hak normatif, tetapi harus dilandasi kepedulian antara manajemen dan pekerja.
Pernyataan itu disampaikan saat pelepasan program mudik gratis pekerja PT Pamapersada Nusantara di Jakarta Timur. Menurutnya, hubungan kerja yang sehat akan berdampak langsung pada produktivitas perusahaan.
Yassierli menjelaskan, hubungan industrial idealnya berjalan seimbang antara perusahaan dan pekerja. Ketika keduanya saling mendukung, kinerja perusahaan akan meningkat secara berkelanjutan.
“Hubungan antara manajemen dan pekerja harus seperti dua roda gigi. Ketika bergerak bersama, perusahaan akan melaju lebih cepat,” ujarnya.
Ia menilai program mudik gratis menjadi contoh nyata kepedulian perusahaan kepada pekerja. Bagi pekerja, mudik bukan sekadar perjalanan pulang kampung, tetapi juga momen penting untuk berkumpul dengan keluarga dalam kondisi aman dan tenang.
Karena itu, pemerintah mengapresiasi perusahaan yang menghadirkan program serupa sebagai bagian dari dukungan kesejahteraan pekerja.
Keselamatan Pengemudi Jadi Sorotan Mudik Lebaran
Selain aspek hubungan industrial, Yassierli juga menyoroti pentingnya keselamatan selama arus mudik. Ia menyebut dua faktor utama penyebab kecelakaan, yakni kondisi kendaraan dan kesiapan pengemudi.
Menurutnya, faktor pengemudi menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan kondisi fisik dan mental saat berkendara.
Untuk itu, Kementerian Ketenagakerjaan melakukan langkah konkret dengan menggelar pemeriksaan kesehatan serta tes kewaspadaan berbasis komputer bagi pengemudi dan kernet bus.
Program ini dilaksanakan di enam wilayah, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Samarinda, Medan, dan Makassar, melalui kolaborasi dengan Perhimpunan Ergonomi Indonesia serta sejumlah perguruan tinggi.
“Kami memiliki alat untuk mengukur tingkat kewaspadaan pengemudi hanya dalam waktu sekitar lima menit. Dari situ bisa diketahui apakah pengemudi dalam kondisi fit atau tidak,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, rendahnya kewaspadaan pengemudi kerap disebabkan kurangnya waktu istirahat. Dalam beberapa temuan, masih ada pengemudi yang hanya beristirahat dua hingga tiga jam sebelum bertugas.
Kondisi tersebut dinilai berisiko karena dapat menurunkan konsentrasi dan meningkatkan potensi kecelakaan di jalan.
Karena itu, Yassierli mengimbau seluruh pengemudi angkutan umum untuk memastikan kondisi tubuh tetap prima sebelum berkendara.
“Keselamatan penumpang sangat bergantung pada kesiapan pengemudi. Jangan memaksakan diri jika kondisi tidak fit,” tegasnya.














Tinggalkan Balasan