Jakarta, PenaRakyat.com – Kawasan Asia Pasifik semakin memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan global meski dunia menghadapi ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi.
Hal itu terungkap dalam rilis resmi DHL Group yang diterima PenaRakyat.com melalui Media OutReach Newswire dalam Laporan Konektivitas Global DHL 2026.
Laporan tersebut menyoroti bahwa hubungan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok menurun dari 2,7 persen pada 2024 menjadi 2 persen pada tiga kuartal pertama 2025.
Namun sebagian besar negara di Asia tetap memperkuat jaringan perdagangan mereka dengan mitra tradisional maupun pasar baru.
Kondisi tersebut menunjukkan kawasan Asia Pasifik mampu bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan geopolitik global.
Asia Pasifik Semakin Dominan
Kawasan Asia Pasifik tercatat sebagai salah satu pilar konektivitas global terkuat. Pangsa perdagangan dunia dari wilayah Asia Timur dan Pasifik meningkat dari 24 persen pada 2001 menjadi 32 persen pada 2025.
Beberapa negara juga mengalami kenaikan peringkat konektivitas global, seperti, Malaysia naik ke posisi 16 dunia, Thailand berada di posisi 27, Korea Selatan di peringkat 31, Taiwan di peringkat 32, dan Vietnam di posisi 36.
Perdagangan intra Asia juga semakin menguat. Sebagian besar arus perdagangan dan investasi kini terpusat di antara negara negara Asia.
Ekspor China yang dialihkan ke negara negara ASEAN meningkat sekitar 13 persen atau setara USD 79 miliar pada 2025. Hal ini semakin memperkuat posisi ASEAN sebagai salah satu koridor perdagangan yang berkembang pesat.
Singapura Pusat Konektivitas Global
Dalam pemeringkatan global yang mencakup 180 negara, Singapura menempati posisi pertama.
Singapura berada di peringkat pertama dalam pilar perdagangan dan posisi kedua dalam pilar modal. Negara kota ini tercatat memiliki kedalaman arus perdagangan internasional terbesar dibandingkan ukuran ekonominya serta menjadi negara dengan stok investasi asing langsung atau FDI terbesar di dunia.
CEO DHL Express Asia Pacific Ken Lee mengatakan kawasan Asia menunjukkan ketahanan yang kuat menghadapi perubahan ekonomi global.
“Asia Pasifik terus menunjukkan ketahanan yang luar biasa dan kemampuan beradaptasi yang kuat dalam menghadapi perubahan ekonomi global. Negara negara di kawasan ini terus memperdalam hubungan perdagangan internasional dan menarik arus perdagangan baru,” kata Ken Lee.
Teknologi AI Dorong Lonjakan Perdagangan
Perdagangan global pada 2025 tumbuh lebih cepat dibandingkan tahun tahun sebelumnya sejak 2017 di luar periode pandemi.
Pertumbuhan tersebut sebagian besar didorong oleh produk teknologi berbasis kecerdasan buatan atau AI.
Menurut World Trade Organization, produk terkait AI menyumbang 42 persen pertumbuhan perdagangan barang global pada tiga kuartal pertama 2025.
Permintaan chip AI, server dan pembangunan pusat data meningkat pesat sehingga menguntungkan rantai pasok teknologi di Taiwan, Korea Selatan, Singapura dan Malaysia.
DHL Express juga menambah kapasitas muatan penerbangan dari Hanoi untuk mendukung sektor manufaktur teknologi Vietnam yang berkembang.
Perdagangan Global Diproyeksikan Tetap Tumbuh
Meskipun kenaikan tarif Amerika Serikat diperkirakan sedikit memperlambat pertumbuhan pada 2026, perdagangan barang global diproyeksikan tetap tumbuh rata rata 2,6 persen per tahun hingga 2029.
Mayoritas perdagangan global tidak melibatkan Amerika Serikat. Banyak negara juga berupaya memperluas akses pasar melalui perjanjian perdagangan baru termasuk perjanjian perdagangan antara India dan Uni Eropa.
Arus Informasi dan Mobilitas Tangguh
Arus mobilitas manusia seperti perjalanan, migrasi dan mobilitas pelajar telah pulih sepenuhnya dan mencapai rekor tertinggi terutama di kawasan Asia Pasifik.
Pusat pusat global seperti Singapura dan Hong Kong tetap menarik pergerakan lintas batas yang signifikan. Arus modal di kawasan juga tetap tangguh meski terjadi fluktuasi geopolitik.
“Politik dan kebijakan seputar globalisasi sering kali jauh lebih fluktuatif dibandingkan arus nyata antar negara. Data menunjukkan arus lintas batas tetap sangat tangguh dan Asia Pasifik terus memainkan peran penting dalam mempertahankan konektivitas global,” kata Steven A. Altman dari NYU Stern School of Business.
Editor : Jumardi
Sumber : Media OutReach Newswire / DHL














Tinggalkan Balasan