Oleh: Dr. Drs. Andi Djalante, MM., M.Si
(Penulis adalah pemerhati sosiologi hukum dan pemerintahan, serta putra eks Sulewatang Amali)

Pergantian tahun kerap dipahami sebagai perayaan seremonial yang identik dengan euforia, resolusi singkat, dan harapan baru. Namun, lebih dari itu, tahun baru seharusnya dimaknai sebagai ruang refleksi kolektif, terutama bagi generasi muda, untuk menakar kembali arah pengabdian dan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Di tengah tantangan global yang semakin kompleks—mulai dari disrupsi teknologi, krisis iklim, hingga ketimpangan sosial—generasi muda tidak cukup hanya hadir sebagai penonton perubahan, tetapi dituntut menjadi aktor strategis pembangunan nasional.

Generasi muda Indonesia saat ini berada pada posisi demografis yang sangat menentukan. Bonus demografi yang akan dinikmati Indonesia hingga tahun 2045 menjadi peluang emas sekaligus ancaman laten. Peluang, jika generasi muda mampu mengonversi potensi intelektual, kreativitas, dan energi sosial menjadi kekuatan produktif bangsa. Ancaman, apabila momentum ini terbuang karena lemahnya arah pengabdian, minimnya integritas, serta dominasi orientasi individualistik yang menjauh dari kepentingan publik.

Tahun baru menjadi momentum tepat untuk bertanya secara jujur: sudah sejauh mana kontribusi yang telah dipersembahkan bagi bangsa ini. Fakta menunjukkan bahwa tidak sedikit anak bangsa yang mampu menjawab tantangan zaman dengan prestasi membanggakan.

Di bidang teknologi, generasi muda Indonesia telah menunjukkan daya saing global. Nama-nama seperti Belva Devara melalui Ruangguru menunjukkan bahwa inovasi berbasis teknologi dapat menjadi jawaban atas persoalan riil masyarakat, khususnya dalam pemerataan akses pendidikan berkualitas.

Platform pendidikan digital tersebut tidak semata berorientasi bisnis, tetapi juga memperluas kesempatan belajar bagi pelajar di berbagai daerah, termasuk wilayah tertinggal. Hal ini menjadi contoh konkret bahwa kontribusi generasi muda dapat berangkat dari problem lokal, dikelola secara kreatif dan berkelanjutan, hingga memberi dampak nasional bahkan global.

Pada titik inilah refleksi Tahun Baru menjadi penting untuk menimbang sejauh mana kontribusi generasi muda bagi bangsa, dan ke mana arah pengabdian itu hendak dibawa.

Di bidang sains dan riset, anak-anak muda Indonesia juga menorehkan prestasi membanggakan. Tim mahasiswa Indonesia kerap meraih medali emas dalam ajang internasional seperti International Mathematics Competition, International Biology Olympiad, maupun kompetisi robotik dunia. Prestasi ini mencerminkan kapasitas intelektual generasi muda yang sejatinya mampu bersaing dengan bangsa lain.

Namun, prestasi akademik semata tidak cukup jika tidak diiringi kesadaran pengabdian untuk memajukan negeri, terutama dalam memperkuat riset terapan yang menyentuh kebutuhan masyarakat.

Selain itu, bidang olahraga pun menjadi ruang kontribusi yang mengharumkan nama bangsa. Keberhasilan atlet muda seperti Apriyani Rahayu di cabang bulu tangkis atau Marselino Ferdinan di sepak bola menunjukkan bahwa disiplin, kerja keras, dan karakter kuat mampu membawa Indonesia berdiri sejajar di panggung internasional. Prestasi olahraga bukan sekadar kemenangan, melainkan simbol ketangguhan mental dan persatuan nasional yang mampu membangkitkan optimisme publik, terutama di kalangan generasi muda itu sendiri.

Namun, di balik berbagai capaian tersebut, refleksi tahun baru juga harus jujur mengakui adanya tantangan serius. Masih banyak generasi muda yang terjebak dalam budaya instan, glorifikasi popularitas media sosial, serta minim kepekaan sosial. Orientasi kesuksesan sering kali diukur secara sempit melalui materi dan pengakuan digital, bukan melalui dampak sosial dan kontribusi jangka panjang bagi bangsa. Kondisi ini menuntut evaluasi kritis atas arah pengabdian generasi muda agar tidak tercerabut dari nilai-nilai kebangsaan.

Dalam konteks ini, Pancasila sejatinya dapat menjadi kompas moral dan ideologis bagi generasi muda dalam menata kontribusi. Nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan gotong royong perlu diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, baik melalui kewirausahaan sosial, pengabdian masyarakat, aktivisme lingkungan, maupun partisipasi dalam ruang-ruang demokrasi yang sehat. Tahun baru bukan sekadar saat menyusun resolusi pribadi, melainkan momentum memperbarui komitmen kebangsaan.

Peran negara, lembaga pendidikan, dan masyarakat juga krusial dalam mengarahkan potensi generasi muda. Ruang partisipasi yang inklusif, akses pendidikan yang adil, serta ekosistem inovasi yang berintegritas akan menentukan apakah generasi muda mampu tumbuh sebagai agen perubahan atau justru menjadi korban sistem. Tanpa dukungan struktural yang memadai, idealisme generasi muda berisiko layu sebelum berkembang.

Pada akhirnya, tahun baru harus dimaknai sebagai titik evaluasi dan keberanian mengambil arah baru. Generasi muda Indonesia memiliki modal besar: jumlah, kreativitas, dan semangat perubahan. Tantangannya adalah memastikan bahwa seluruh potensi yang selama ini sudah ada semestinya diarahkan untuk kepentingan bangsa, bukan sekadar pencapaian individual. Catatan kritis ini menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa tidak lahir dari euforia sesaat, melainkan dari konsistensi pengabdian, integritas moral, dan kontribusi nyata yang berkelanjutan. Tahun baru seharusnya menjadi awal dari komitmen kolektif generasi muda untuk hadir, berperan, dan bertanggung jawab atas masa depan Indonesia. Demikian, selamat tahun baru. Selamat bagi generasi muda.

Salam Pancasila. Merdeka. (*)