PEKANBARU, Penarakyat.com — Di tengah dinamika sosial yang kian kompleks, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Riau kembali menggema dengan slogan “Kerukunan Harga Mati.”
Enam perwakilan agama duduk satu meja, berbincang tentang perdamaian dan toleransi. Sebuah pemandangan yang menyejukkan — namun juga mengundang pertanyaan mendasar: apakah harmoni yang dibicarakan sudah benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata?
Acara yang dihadiri tokoh-tokoh lintas agama dan pejabat pusat ini memang menggugah optimisme.
Kepala Kanwil Kemenag Riau, KH. Abdul Rahman, dan Stafsus Menteri Agama, Dr. Bunyamin Yafid, menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan lintas iman. Namun di balik retorika indah itu, masih tersisa pekerjaan rumah besar: mengikis sekat-sekat sosial yang kerap mencuat di tingkat akar rumput.
Kegiatan dialog lintas agama tentu patut diapresiasi, tetapi FKUB tidak boleh berhenti pada ruang hotel dan forum tertutup. Kerukunan sejati harus hidup di pasar, di sekolah, di ruang publik, bahkan di dunia maya yang kini kerap menjadi arena ujaran kebencian.
Tantangan terbesar FKUB adalah bagaimana menurunkan nilai toleransi menjadi aksi nyata — bukan sekadar jargon. Apalagi, beberapa daerah di Indonesia masih rentan oleh isu identitas dan politik sektarian.
Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nazaruddin Umar, dalam pesannya menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang menjadi laboratorium perdamaian dunia. Sebuah pernyataan besar yang hanya bisa dibuktikan jika FKUB dan seluruh elemen bangsa benar-benar menjaga “kerukunan” bukan sebagai slogan, tetapi sebagai napas kehidupan bersama.
Riau, dengan sejarah pluralitasnya, sesungguhnya punya peluang besar menjadi contoh.
Namun jalan ke arah itu menuntut komitmen tanpa henti. Karena kerukunan sejati bukan dibangun dari seremonial tahunan — tetapi dari keberanian menegakkan keadilan dan menghormati perbedaan setiap hari. (H.Moel)












Tinggalkan Balasan