WAJO, penarkayat.com – Penurunan penjualan yang signifikan akibat pandemi global corona virus disesase (Covid-19) berdampak pada stock minyak nasional yang begitu tinggi. Untuk mengamankan stock minyak nasional tidak meluber selama pandemi, bebagai upaya terus dilakukan oleh PT. Pertamina (PERSERO).
Salah satunya mengubah pola operasi dengan mengubah discharge port cargo import langsung ke TBBM tujuan terminal transit. Selain itu Pertamina juga bersinergi dengan KKKS untuk memaksimalkan storage crude milik KKKS, mengubah pola lifting crude yang awalnya satu bulan menjadi tiga bulan sekali, memaksimalkan storage avtur di DPPU, memaksimalkan storage di SPPBU dengan pola kredit, serta memaksimalkan ruang kosong yang ada di kapal.
“Terjadi penurunan penjualan, sementara stok nasional begitu tinggi . Kita juga tidak berani stoknya dipaskan, karena ada beberapa negara yang berpotensi lockdwon, sementara kita bergantung pada impor jadi bagaimana kalau negara tersebut mengalami lockdown sementara stok kita pas,” jelas Direktur Logistik dan Infrastruktur PT Pertamina (PERSERO), Dr. Ir. Mulyono, M.T, MM, pada acara pelatihan untuk media, bisnis proses minyak dan gas bumi batch dua, hari kedua yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) kerjasama JSK Petroleum Academy melalui via Zoom Sabtu (03 Oktober 2020).
Kendati terdampak covid, dan Pertamina dikabarkan merugi, namun Mulyono menegaskan, pertamina tidak pernah berhenti untuk berkontribusi terhadap Negara. Tahun ini Pertamin tetap berkontribusi terhadap deviden sebesar Rp8,5 trilyun. Deviden ini dibayar tiga tahap dengan rincian, pembayaran deviden pada 17 Juli 2020 sebesar Rp2,5 T, kemudaian 28 Agustus dan 29 September 2020 masing-masing 3 T.
Begitu juga dengan pajak, Pertamina mengakui telah membayar pajak mulai Januari hingga Agustus 2020 sebesar Rp 41 trilyun dengan estimasi rata-rata Rp5 trilyun per bulan. Sementara kontribusi pertamina ke negara melalui dana bagi hasil produksi lapangan pertamina dalam wujud pembayaran minyak mentah dan kondensat bagian negara (MMKBN) sebesar Rp50 trilyun jika dirata-ratakan sebesar Rp6,2 trilyun.
Mulyono juga menjelaskan, meski kondisi covid namun Pertamina tidak melakukan PHK dan pengurangan mitra kerja. sebanyak 1.225.825 orang yang terlibat di pertamina tidak ada satupun yang di PHK. Meski ada opsi membeli minyak dari luar lebih murah dengan menutup kilang.
“Pertamina juga berkontribusi ke masyarakat berupa bantuan yang jika ditotal mencapai Rp883 milyar hingga per 24 Agustus,” jelasnya.
Sekretaris Jendral Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas), Moshe Rizal, Eng. Ind. M.Sc, mengatakan bahwa ada perbedaan krisis yang terjadi di Indonesia sebelumnya dengan krisis yang ada saat ini. Krisis di tahun 2020 terdapat ketidak pastian kapan selesainya pandemic. Krisis akibat pandemic juga berdampak ke seluruh sector bahkan secara global.
“Uniknya krisis yang terjadi akibat pandemic dibandingkan dengan krisis seperti yang terjadi di 1998 adalah mempengaruhi permintaan dan suplay terutama di sector migas,” ujarnya.
Dia menjelaskan, seusai pandemic di tahun 2021 diharapkan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen, setelah resesi ekonomi di tahun 2019-2020. Dimana tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia -1 persen. (**jumardi)















Tinggalkan Balasan