PAREPARE, Penarakyat.com — Perburuan terhadap jaringan narkotika internasional Freddy Pratama kembali menyingkap fakta mengejutkan.

Dari Pelabuhan Nusantara Parepare hingga sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya, rantai distribusi sabu lintas pulau ini terbukti diatur dengan modus canggih dan sistem keamanan berlapis.

Hanya dalam hitungan minggu, Satresnarkoba Polres Parepare berhasil memutus sebagian simpul jaringan: Saripudin Hidayat lebih dulu diciduk, lalu dua kurirnya, MHR dan R, menyusul ditangkap di Surabaya.

Namun, pola operasinya bukan sekadar pengiriman barang ilegal. Penyelundupan 20 kilogram sabu senilai Rp11 miliar ini dijalankan dengan sistem blind network. Para kurir tak saling mengenal, dikendalikan dari jarak jauh oleh sosok misterius berinisial M melalui aplikasi terenkripsi Signal.

Identitas Ganda, Teknologi Kriminal, dan Modus Internasional

Kasus Saripudin membuka mata publik tentang profesionalisme jaringan ini. Empat KTP palsu, lima SIM card, dan koper penuh sabu menunjukkan betapa jaringan Freddy Pratama bekerja seperti kartel: disiplin, terstruktur, dan nyaris tanpa celah.

Polres Parepare menduga bahwa jalur Parepare hanyalah salah satu titik distribusi. Dari Pontianak, barang dikirim ke Palangkaraya, kemudian dihubungkan ke Parepare untuk transit sebelum diedarkan ke sejumlah kota besar di Sulawesi dan Jawa.

“Penggunaan Parepare sebagai pintu masuk narkotika bukan kebetulan. Letaknya strategis, pelabuhannya aktif, dan arus barang relatif padat. Ini memudahkan penyelundupan,” kata sumber internal kepolisian yang enggan disebut namanya.

Perang Panjang Melawan Kartel Freddy Pratama

Nama Freddy Pratama bukan pemain baru. Jaringannya dikenal sebagai salah satu penyuplai narkotika terbesar Asia Tenggara. Setiap kurir hanya mengenal satu atasan, komunikasi dijaga seminimal mungkin, dan transaksi dibungkus dengan jejak digital yang sulit dilacak.

Meski demikian, penangkapan tiga kurir ini menjadi pintu masuk penting. Polisi kini memburu pengendali utama, termasuk pria berinisial M yang diduga sebagai koordinator regional jaringan Freddy di Kalimantan dan Sulawesi.

“Ini baru permulaan. Jaringan ini besar, dan kami tidak akan berhenti sampai semua simpulnya terungkap,” tegas AKBP Indra Waspada Yuda.

Ancaman Nyata di Depan Mata

Parepare kini menjadi salah satu titik merah dalam peta distribusi narkotika nasional. Jika 20 kilogram sabu itu berhasil lolos, dampaknya bisa menghancurkan generasi muda di Sulawesi Selatan.

Pemerintah daerah bersama aparat keamanan diharapkan memperketat pengawasan pelabuhan dan jalur lintas pulau. Tanpa langkah komprehensif, kota transit seperti Parepare akan terus menjadi incaran jaringan narkotika internasional. (Ady)