PIDIE JAYA, Penarakyat.com — Rekaman video yang memperlihatkan Wakil Bupati Pidie Jaya, Hasan Basri, terlibat cekcok dengan relawan dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) viral di media sosial dan menuai kecaman luas.

Dalam video berdurasi singkat itu, Hasan tampak emosi hingga diduga memukul Ketua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Muhammad Reza, S.Pd., di lokasi dapur umum program MBG di Gampong Sagoe, Kecamatan Trienggadeng, Kamis (30/10/2025).

Aksi refleks “bogem mentah” pejabat publik itu membuat wajah Reza mengalami memar.

Peristiwa ini sontak menyulut reaksi keras masyarakat dan warganet yang menilai perilaku sang wakil bupati tidak mencerminkan keteladanan seorang pemimpin daerah.

“Sikap seperti preman, bukan pejabat. Kalau marah sedikit langsung main tangan, di mana wibawa seorang pemimpin?” tulis salah satu akun Facebook mengomentari video tersebut.

Netizen lain bahkan menyebut tindakan Hasan sebagai bentuk arogansi kekuasaan yang tak seharusnya terjadi di tengah masyarakat yang sedang berjuang mengabdi.

Mereka menilai, seorang pemimpin dituntut untuk bijak dan sabar menghadapi persoalan, bukan mudah tersulut emosi di depan publik.

Sementara itu, laporan media lokal menyebut insiden bermula saat Wakil Bupati Hasan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur MBG dan mendapati makanan yang disiapkan dalam kondisi dingin.

Ia menilai hal itu tidak sesuai dengan standar teknis penyajian.

Namun, penjelasan dari Kepala SPPG, Muhammad Reza — bahwa proses masak dilakukan 4–6 jam sebelum distribusi agar efisien dan sesuai mekanisme — justru membuat amarah Hasan kian memuncak. Ia pun dilaporkan melayangkan pukulan ke wajah Reza hingga meninggalkan bekas memar.

Tidak terima atas tindakan itu, Reza dikabarkan telah melapor ke Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, dan tengah mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum.

Hingga berita ini dirilis, pihak Wakil Bupati Hasan Basri belum memberikan klarifikasi resmi.

Namun satu hal yang pasti — insiden ini menorehkan catatan kelam dalam etika kepemimpinan daerah.

Seorang pejabat publik seharusnya menjadi teladan, bukan sumber ketakutan. Kekuasaan tanpa kendali emosi hanya akan menodai martabat jabatan dan merusak kepercayaan rakyat yang diwakilinya.

(Amdan Harahap)