JAKARTA, Penarakyat.com– Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PKB, Nasim Khan, menegaskan pentingnya kesiapan energi nasional menjelang H-3 minggu Lebaran. Ia menyoroti peran strategis PT Pertamina (Persero) sebagai penyedia utama BBM dan Avtur dalam mengantisipasi lonjakan konsumsi selama periode mudik.

Menurut Nasim, momentum mudik Lebaran hampir selalu memicu peningkatan signifikan konsumsi bahan bakar, baik untuk kendaraan darat maupun sektor penerbangan. Karena itu, langkah antisipatif harus disiapkan jauh sebelum puncak arus mudik terjadi.

“Setiap tahun konsumsi BBM meningkat tajam saat mudik. Persiapan tidak boleh mepet waktu. Safety stock harus diperkuat sejak sekarang,” ujar Nasim dalam keterangannya, Kamis (26/2/2026).

Nasim menekankan pentingnya penambahan cadangan BBM dan Avtur di seluruh Terminal BBM serta Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU). Ia mendorong Pertamina meningkatkan safety stock, terutama di wilayah yang berpotensi mengalami lonjakan permintaan tinggi seperti Jalur Pantura, Tol Trans Jawa dan Sumatra, serta kota-kota tujuan mudik utama.

Selain itu, optimalisasi kilang domestik juga menjadi faktor kunci. Beberapa kilang strategis seperti Kilang Balongan dan Kilang Cilacap diharapkan beroperasi dengan tingkat utilisasi tinggi (high utilization rate) guna menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

Dalam aspek distribusi, Nasim meminta adanya koordinasi intensif dengan kepolisian dan Kementerian Perhubungan untuk memastikan kelancaran mobil tangki di jalur padat. Beberapa langkah yang dinilai penting antara lain:
• Skema prioritas distribusi di jalur rawan kemacetan
• Pengoperasian SPBU Siaga dan SPBU modular 24 jam di jalur mudik
• Penyediaan motorist (layanan BBM keliling) untuk mengurai antrean panjang
• Penguatan jalur laut dan pipa, termasuk menyiagakan kapal tanker di wilayah kepulauan serta monitoring stok terminal secara real-time.

Lonjakan pergerakan penerbangan selama musim mudik juga menjadi perhatian serius. Nasim menyebut kenaikan trafik penerbangan bisa mencapai 10–20 persen dibanding hari normal. Karena itu, stok Avtur di bandara besar seperti Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Juanda harus ditingkatkan.

Selain penyesuaian jadwal pengiriman Avtur sesuai tambahan penerbangan (extra flight), kesiapan hydrant system serta penambahan armada refuelling truck juga dinilai krusial untuk mencegah mismatch antara supply dan demand.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pertamina biasanya membentuk Satuan Tugas Ramadan dan Idul Fitri (Satgas RAFI). Satgas ini bertugas melakukan monitoring harian konsumsi BBM, pelaporan stok secara real-time, hingga menyediakan posko pengaduan 24 jam. Nasim menilai peran Satgas RAFI sangat penting sebagai quick response mechanism apabila terjadi kelangkaan atau gangguan distribusi di lapangan.

Secara historis, konsumsi BBM selama periode mudik mengalami peningkatan signifikan. Jenis Pertalite dan Pertamax diperkirakan naik 10–30 persen, sementara Solar meningkat terutama di jalur logistik. Kenaikan Avtur umumnya terjadi pada periode H-7 hingga H+7 Lebaran.

Ia menegaskan pentingnya analisis berbasis data historis untuk kebutuhan forecasting agar distribusi energi tetap terjaga tanpa kekurangan maupun kelebihan pasokan.

Nasim juga mengingatkan sejumlah risiko yang perlu diantisipasi sejak dini, seperti kemacetan distribusi akibat kepadatan lalu lintas, cuaca buruk yang dapat mengganggu kapal tanker, potensi panic buying, hingga gangguan teknis kilang.

“Mitigasi harus disiapkan sejak awal, bukan saat H-3. Kesiapan energi saat mudik bukan hanya soal bisnis, tetapi menyangkut stabilitas nasional,” tegasnya.

Untuk itu, ia mendorong sinergi lintas lembaga antara Kementerian ESDM, Kementerian Perhubungan, Kepolisian, serta BUMN transportasi agar pengamanan pasokan energi selama Ramadan dan Idul Fitri berjalan optimal.

Dengan langkah strategis dan koordinasi yang matang, diharapkan pasokan BBM dan Avtur selama periode mudik Lebaran tetap aman sehingga masyarakat dapat melakukan perjalanan dengan nyaman dan lancar.(Joe).