JAKARTA, Penarakyat.com – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan bahwa ijazah akademik kini bukan lagi jaminan utama untuk memenangkan persaingan di pasar kerja global yang terdisrupsi oleh Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI).
Sebagai solusi, Menaker membekali lulusan perguruan tinggi dengan strategi “Triple Readiness” (Tiga Kesiapan) untuk menutup celah kesenjangan keterampilan digital Indonesia yang saat ini baru mencapai 27 persen, jauh di bawah standar global.
Pesan fundamental tersebut disampaikan Menaker Yassierli saat menyampaikan Orasi Ilmiah dalam acara Wisuda Universitas Paramadina di Jakarta pada Sabtu, 25 April 2026.
Ia menyoroti fenomena industri saat ini yang mulai mengalihkan fokus dari sekadar gelar administratif menuju kompetensi nyata.
“Saat ini yang dicari industri adalah skills, not school. Kami melihat peningkatan empat kali lipat jumlah lowongan kerja yang lebih mementingkan kompetensi nyata dibanding sekadar gelar administratif dalam satu dekade terakhir,” tegas Menaker di hadapan para wisudawan.
Tiga Pilar Triple Readiness dalam Menghadapi Disrupsi Teknologi
Guna memenangkan persaingan tersebut, Menaker memperkenalkan konsep Triple Readiness sebagai strategi bertahan dan berkembang. Pilar pertama adalah Technical Skills Readiness, di mana lulusan wajib menguasai keterampilan digital tingkat lanjut dan ekonomi hijau. Kedua, Human Skills Readiness, yang menekankan pada kemampuan berpikir kritis, empati, dan kepemimpinan yang tidak bisa digantikan oleh AI.
“AI tidak akan bekerja optimal tanpa sentuhan manusia. Human skills membuat pengguna memahami konteks, batasan, dan risiko AI,” jelas Yassierli mengenai pentingnya aspek kemanusiaan dalam teknologi.
Pilar ketiga adalah Market Entry Readiness, yakni kesiapan lulusan untuk memahami dinamika industri melalui portofolio yang kuat, pengalaman magang, serta sertifikasi kompetensi.
Hal ini menjadi sangat krusial karena data menunjukkan hampir 70 persen pemimpin bisnis di Indonesia enggan merekrut kandidat yang buta akan teknologi AI.
Menaker menyebutkan bahwa tantangan digital skill gap harus segera diatasi mengingat kebutuhan industri terhadap tenaga kerja yang melek AI melonjak drastis dalam lima tahun terakhir.
Komitmen Pemerintah dan Pentingnya Pola Pikir Pembelajar
Menaker menyatakan bahwa pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan telah menyiapkan 44 Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) di seluruh Indonesia untuk memfasilitasi program reskilling dan upskilling bagi masyarakat.
Infrastruktur ini disediakan agar anak bangsa dapat terus memperbarui kemampuan mereka sesuai dengan tuntutan zaman yang berubah cepat, di mana 50 persen pekerjaan saat ini diprediksi akan hilang dalam sepuluh tahun ke depan.
Sebagai penutup orasinya, Yassierli mendorong para lulusan untuk memiliki pola pikir pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner). Ia berpesan agar para wisudawan tidak pernah merasa puas dengan gelar yang baru saja diraih karena dunia kerja akan terus menuntut adaptasi tanpa henti.
“Kuncinya adalah growth mindset. Jangan pernah merasa puas dengan ijazah yang ada. Jadilah pembelajar sepanjang hayat yang siap beradaptasi dengan segala perubahan bisnis dan teknologi,” pungkasnya.













Tinggalkan Balasan