Oleh : tim Redaksi Investigasi Penarakyat.com
PAREPARE, Penarakyat.com — Malam di Pelabuhan Nusantara, Minggu (27/7/2025), terasa biasa-biasa saja.
Angin laut membawa aroma asin, kapal penumpang dan barang bersandar silih berganti.
Namun di balik hiruk-pikuk aktivitas pelabuhan, sebuah operasi senyap berlangsung.
Seorang pria bertubuh sedang melangkah pelan membawa koper biru tua. Wajahnya tampak tenang, tapi matanya gelisah.
Dia adalah Saripudin Hidayat, pria asal Bandung Barat, kurir dalam jaringan narkotika internasional Freddy Pratama. Tanpa sadar, setiap langkahnya sudah diawasi.
Ketika koper itu diperiksa, 20 paket sabu setara Rp11 miliar ditemukan tersusun rapi di dalamnya.
Penangkapan ini menjadi pintu masuk bagi kepolisian Parepare membongkar satu demi satu simpul jaringan narkoba terbesar di Asia Tenggara.
Kurir Tanpa Nama, Dikendalikan dari Bayang-Bayang
Penangkapan Saripudin hanyalah permulaan. Dari interogasi intensif, nama dua kurir lain muncul ke permukaan: MHR (22) dan R (37). Keduanya kemudian diciduk Senin (11/8/2025) di sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya.
Menariknya, ketiga kurir ini tidak saling mengenal. Mereka hanya menjadi “bayangan” satu sama lain, terhubung lewat pesan terenkripsi di aplikasi Signal.
Perintah datang dari seseorang berinisial M, seorang pengendali wilayah yang kini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).
“Jaringan ini bekerja dengan pola blind network. Setiap kurir hanya mengenal satu atasan, dan tidak pernah tahu siapa penerima barang berikutnya,” ujar AKBP Indra Waspada Yuda, Kapolres Parepare, saat konferensi pers, Rabu (20/8/2025).
Metode ini membuat aparat kesulitan memutus rantai peredaran. Freddy dan orang-orangnya mengandalkan identitas ganda, kartu SIM sekali pakai, dan aplikasi terenkripsi.
Saripudin sendiri mengantongi empat KTP palsu dan lima nomor telepon berbeda.
Parepare Jadi Pintu Emas Jaringan Freddy
Dalam peta penyelundupan narkotika, Parepare memegang peran strategis. Letaknya di pesisir barat Sulawesi Selatan membuat kota ini menjadi pintu transit antara Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa.
Sabu dari Pontianak dibawa ke Palangkaraya, lalu diarahkan ke Parepare untuk “disimpan sejenak” sebelum diteruskan ke kota-kota besar lainnya.
“Pelabuhan Parepare jadi titik rawan. Aktivitas barang padat, arus penumpang tinggi, dan pengawasan masih punya celah. Itu yang dimanfaatkan jaringan Freddy,” ungkap seorang sumber di kepolisian yang enggan disebut namanya.
Bukan kebetulan jika 20 kilogram sabu ini masuk lewat Parepare. Ada indikasi kuat bahwa kota ini sudah masuk radar sindikat internasional sebagai jalur aman.
Teknologi, Modus, dan Skala Internasional
Freddy Pratama bukan sekadar bandar narkotika. Dia adalah arsitek distribusi. Sistemnya modern, jauh dari pola lama. Tidak ada transaksi tunai. Tidak ada pertemuan fisik antar kurir. Semua dilakukan dengan teknologi yang sulit dilacak:
- Pesan terenkripsi di aplikasi Signal dan Telegram
- KTP palsu untuk memecah identitas pengirim
- SIM card sekali pakai agar jejak digital cepat hilang
- Pembayaran elektronik via rekening zombie
Ini membuat jaringan Freddy lebih mirip organisasi bisnis internasional ketimbang sindikat kriminal konvensional.
Ancaman yang Mengintai Generasi Muda
Bayangkan jika 20 kilogram sabu ini lolos. Dengan takaran pasaran, barang haram itu bisa dikonsumsi oleh lebih dari 100 ribu orang. Parepare dan sekitarnya bisa menjadi zona merah narkotika dalam hitungan bulan.
Karena itu, polisi menegaskan ancaman hukuman seumur hidup hingga mati bagi para kurir. “Kami ingin memberi efek jera,” tegas AKBP Indra.
Namun, memutus rantai kurir tidak cukup. Selama Freddy Pratama dan “M” masih bebas, ancaman akan terus datang. Ini bukan sekadar soal penegakan hukum, melainkan perang panjang melawan kartel internasional.
Menutup Celah, Menjaga Kota
Kasus ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah, aparat pelabuhan, dan masyarakat Parepare. Kota transit ini kini berada di garis depan peredaran narkotika internasional.
Diperlukan pengawasan ekstra ketat di pelabuhan, pembaruan sistem keamanan berbasis teknologi, serta kampanye kesadaran publik. Jika tidak, Parepare akan terus menjadi “pintu emas” bagi sindikat narkotika internasional.
Epilog: Perang Belum Usai
Freddy Pratama masih buron. Sosoknya seperti bayang-bayang: selalu ada, tapi sulit ditangkap. Polisi sudah menembus sebagian kecil jaringan, namun jalur distribusi narkotika lintas pulau ini masih berdetak.
Pertanyaannya, siapa yang lebih cepat?
Aparat yang memburu atau sindikat yang beradaptasi?
Di balik koper biru dan angka 20 kilogram, pertempuran sunyi melawan narkotika terus berlangsung. Dan Parepare, sadar atau tidak, kini berada di pusat pusaran perang itu. (Ady)










Tinggalkan Balasan