BULUKUMBA, Penarakyat.com — Pengungkapan ladang ganja di Bulukumba membuka potret baru modus peredaran narkoba berbasis digital.

Instagram kini bukan sekadar platform berbagi foto, tapi wadah transaksi narkoba terselubung.

1. Instagram Jadi Pasar Gelap

Polisi berhasil membongkar kasus ini setelah memantau aktivitas WS di Instagram.

Pelaku memajang foto-foto ganja dan memasarkan barang haram tersebut melalui pesan langsung (DM). Strategi ini mempersulit pengawasan karena transaksi dilakukan tanpa tatap muka.

Modus WS memanfaatkan pola komunikasi cepat di media sosial, meminimalisir risiko bertemu langsung dengan pembeli yang tak dikenal. Namun, inilah titik lemah yang dimanfaatkan polisi.

2. Dari Satu Sachet ke Ladang Ganja

Kasus ini menjadi puzzle menarik. Awalnya, polisi hanya memesan satu sachet ganja. Tetapi, dari pemeriksaan HP WS, ditemukan foto tanaman ganja yang mengarahkan penyidik ke kebun tersembunyi di Kindang.

Hasilnya mengejutkan:

  • 4 batang ganja ditemukan di pot lantai dua rumah WS.
  • 12 pohon ganja ditemukan di kebun pribadi WS, 4 KM dari rumahnya.

Penemuan ini menunjukkan WS bukan sekadar pengedar, tetapi juga produsen ganja lokal.

3. Ancaman Jaringan Lebih Luas

Meski WS sudah diamankan, polisi menduga ada jaringan distribusi ganja yang lebih besar.

Kindang dikenal memiliki kontur geografis perbukitan, cocok untuk menyembunyikan ladang ganja. Ada indikasi jalur peredaran bisa melibatkan wilayah tetangga.

4. Tantangan Penegakan Hukum

Kasus ini mengungkap tantangan baru aparat dalam perang melawan narkoba:

  • Transaksi via media sosial sulit dipantau.
  • Produksi lokal menambah kompleksitas pengawasan.
  • Kebutuhan kerja sama lintas wilayah dan pemantauan digital makin mendesak.

Jika tak segera diantisipasi, Kindang berpotensi menjadi sentra ganja tersembunyi di Sulawesi Selatan. (Riss)